Melangkah bersama ekosistem alas kaki bersama IFN

Info Lebih Lanjut: 0811-3200-1008

Daftar sekarang! Daftar di sini
Artikel

Dari Batik ke Sepatu: Seberapa Besar Peluang Wastra Masuk ke Pasar Lifestyle ?

Bisakah batik tidak hanya dikenakan, tetapi juga hadir dalam produk lifestyle yang digunakan sehari-hari?

Pertanyaan ini menjadi menarik ketika kekayaan wastra Indonesia bertemu dengan teknologi, desain, craftsmanship, dan industri alas kaki.

Melalui kolaborasi Batik Fractal × Damia Shoes × Shoeka Shoes dalam ekosistem Indonesia Footwear Network (IFN), motif Batik Tulungagung dieksplorasi untuk dikembangkan menjadi produk alas kaki.

Prosesnya tidak berhenti pada pemilihan motif. Batik Fractal mengeksplorasi motif dengan dukungan teknologi digital, kemudian diwujudkan melalui proses batik tradisional. Material tersebut selanjutnya diterjemahkan oleh Damia Shoes dan Shoeka Shoes menjadi prototype alas kaki dengan pendekatan produk yang berbeda.

Bukan Sekadar “Sepatu Bermotif Batik”

Menghadirkan wastra ke dalam alas kaki ternyata membawa pertanyaan yang lebih kompleks.

Bagaimana mempertahankan karakter batik tetapi tetap membuat produk terasa modern dan wearable?

Siapa konsumen yang dituju?
Dan yang paling penting, apakah produk berbasis wastra dapat berkembang dari prototype menjadi produk yang memiliki peluang pasar?

Di sinilah proses pengembangan produk menjadi penting. Desain, pemilihan material, konstruksi, craftsmanship, target konsumen, hingga positioning perlu dipertimbangkan secara bersamaan.

Ketika Kolaborasi Membuka Peluang. Kolaborasi ini juga menunjukkan bahwa satu sumber inspirasi dapat menghasilkan interpretasi produk yang berbeda.

Batik Fractal membawa perspektif batik, desain, dan teknologi. Damia Shoes dan Shoeka Shoes menerjemahkannya melalui pengembangan produk dan perspektif pasar masing-masing.

Peran BPIPI sebagai Industry Connector & Enabler kemudian menjadi penting untuk mempertemukan kompetensi yang berbeda dalam ekosistem industri.

Karena pada akhirnya, kolaborasi tidak harus berhenti pada sebuah prototype. Ada peluang untuk membuka pengetahuan, koneksi, pengembangan produk, hingga peluang bisnis baru.

Lalu, Seberapa Besar Peluangnya?

Membawa wastra ke pasar lifestyle bukan hanya soal membuat produk yang menarik secara visual. Produk juga perlu relevan dengan konsumen, memiliki fungsi, karakter, dan positioning yang jelas.

Maka, pertanyaannya kembali kepada kita:

Apakah wastra Indonesia siap menjadi bagian yang lebih besar dari industri lifestyle dan alas kaki?

Menurut Anda, apa yang menjadi tantangan terbesar untuk membawa wastra ke pasar lifestyle: desain, harga, material, produksi, atau selera konsumen?
Atau justru ada faktor lain yang lebih menentukan?

Diskusi

Bagikan pendapat Anda tentang artikel ini.

Fika - 1 pekan lalu
Menurut saya, salah satu tantangan terbesarnya adalah harga dan daya beli konsumen. Produk berbasis wastra biasanya punya proses dan nilai craftsmanship yang lebih tinggi, sehingga harganya juga bisa lebih mahal... kira-kira bagaimana ya strateginya agar harganya tetap terjangkau?
Masuk untuk ikut berdiskusi.